Di Yunani kuno, Socrates terkenal memiliki pengetahuan yang tinggi dan sangat terhormat.
Suatu hari seorang kenalan dari teman-nya datang untuk bertemu dengan filsuf besar itu dan
berkata, "Tahukah Anda apa yang saya dengar tentang teman Anda?"
"Tunggu sebentar," Socrates menjawab. "Sebelum Anda menceritakan apapun
pada saya, saya akan memberikan suatu test sederhana yang disebut Triple
Filter Test.
Filter petama adalah KEBENARAN.
"Apakah Anda yakin bahwa apa yang akan Anda katakan pada saya itu benar?"
"Tidak," jawab orang itu, "Sebenarnya saya HANYA MENDENGAR tentang itu."
"Baik," kata Socrates. "Jadi Anda tidak yakin itu benar. Baiklah sekarang saya berikan filter yang kedua.
Filter ke 2, KEBAIKAN.
Apakah yang akan Anda katakan tentang teman saya itu sesuatu yang baik?"
"Tidak, malah sebaliknya..."
"Jadi," Socrates melanjutkan, "Anda akan menceritakan sesuatu yang buruk
tentang dia, tetapi Anda tidak yakin apakah itu benar. Anda masih
memiliki satu kesempatan lagi, masih ada satu filter lagi, yaitu filter
ke 3.
Filter ke 3, KEGUNAAN.
Apakah yang akan Anda katakan pada saya tentang teman saya itu berguna bagi saya?"
"Tidak, sama sekali tidak."
"Jadi," Socrates menyimpulkannya, "bila Anda ingin menceritakan sesuatu
yang belum tentu benar, bukan tentang kebaikan,dan bahkan tidak berguna,
mengapa Anda harus menceritakan itu kepada saya...??" Itulah mengapa
Socrates dianggap filsuf besar dan sangat terhormat.
Penting bagi setiap dr kita, gunakan triple filter test setiap kali kita
mendengar sesuatu. Jika bukan KEBENARAN, bukan KEBAIKAN, dan tidak ada
KEGUNAAN positif, maka tidak perlu kita terima. Dan apabila kita
terlanjur mendengarnya, jangan sampaikan pada orang lain, dan jangan
menyakiti hati orang lain..
Selamat datang...!!! Blog sederhana ini berisi kisah kisah bijak tauladan yang pastinya bisa meng-inspirasi kita untuk lebih bijaksana dalam setiap langkah dan keputusan dalam hidup.!! Semoga bermanfaat....!!
Sabtu, 06 Oktober 2012
Kamis, 04 Oktober 2012
KELEDAI PEMBAWA UNTUNG
Dihikayatkan bahwa salah seorang laki laki saleh, jika dirinya ditimpa musibah atau diuji dengan suatu petaka, ia selalu berkata, "itulah yang terbaik." Pada suatu malam ada seekor harimau yang datang ke rumahnya dan menerkan ayam jantan miliknya. Ketika dia mendapat kabar bahwa ayamnya diterkam harimau, dia berkata, "Itulah yang terbaik." Pada malam berikutnya, anjing yang telah dilatih sedemikian rupa untuk menjaga rumahnya ada yang memukul hingga mati. Ketika dia mendapat kabar bahwa ada yang memukul anjingnya hingga mati, dia berkata, "itulah yang terbaik." Pada malam berikutnya lagi keledai satu satunya milik dia ada yang mencekik hingga mati. Ketika dia mendapat kabar bahwa keledainya mati karena ada yang mencekik, dia berkata, "Itulah yang terbaik, jika Allah menghendaki."
Istrinya merasa jengkel atas perkataan suaminya itu. Setiap kali mendapat musibah selalu berkata, "Itulah yang terbaik," sebab seolah olah dia membiarkan kerusakan. Pada suatu malm, kampung yang menjadi tempat tinggal orang itu disatroni oleh gerombolan arab pedalaman. Mereka membunuh setiap orang yang ada di kampung itu. Tidak ada seorangpun yang selamat dari kejadian itu kecuali dia dan keluargannya.
Ternyata, gerombolan itu mendatangi setiap rumah dan membunuh penghuninya jika mereka mendengar suara kokok ayam, suara anjing, dan suara keledai. Mereka mengetahui bahwa dengan terdengarnya suara suara hewan tersebut merupakan pertanda bahwa sebuah rumah ada penghuninya. Sehingga, mereka mendatanginya dan membunuh penghuninya. Sementara itu, ayam, anjing, dan keledai milik orang saleh tadi sudah mati semua. Sehingga tidak terdengar ada suara apapun dari rumahnya. Maka dia selamat dari pembunuhan yang dilakukan oleh gerombolan itu. Dengan demikia, binasanya berbagai benda (ayam, anjing, dan keledai) miliknya itu adalah keadaan yang terbaik dan sebagai sebab dirinya selamatdari pembunuhan. Maha suci Aallah.!
Istrinya merasa jengkel atas perkataan suaminya itu. Setiap kali mendapat musibah selalu berkata, "Itulah yang terbaik," sebab seolah olah dia membiarkan kerusakan. Pada suatu malm, kampung yang menjadi tempat tinggal orang itu disatroni oleh gerombolan arab pedalaman. Mereka membunuh setiap orang yang ada di kampung itu. Tidak ada seorangpun yang selamat dari kejadian itu kecuali dia dan keluargannya.
Ternyata, gerombolan itu mendatangi setiap rumah dan membunuh penghuninya jika mereka mendengar suara kokok ayam, suara anjing, dan suara keledai. Mereka mengetahui bahwa dengan terdengarnya suara suara hewan tersebut merupakan pertanda bahwa sebuah rumah ada penghuninya. Sehingga, mereka mendatanginya dan membunuh penghuninya. Sementara itu, ayam, anjing, dan keledai milik orang saleh tadi sudah mati semua. Sehingga tidak terdengar ada suara apapun dari rumahnya. Maka dia selamat dari pembunuhan yang dilakukan oleh gerombolan itu. Dengan demikia, binasanya berbagai benda (ayam, anjing, dan keledai) miliknya itu adalah keadaan yang terbaik dan sebagai sebab dirinya selamatdari pembunuhan. Maha suci Aallah.!
Selasa, 02 Oktober 2012
RASULULLAH DAN BUAH LIMAU
bersama beberapa orang sahabat.
Wanita itu membawa beberapa biji buah limau sebagai
hadiah untuk
baginda Rasulullah. Betapa cantik rupa buah limau itu. Sehingga siapapun yang
melihatnya pasti akan terliur. Baginda menerima buah limau itu sambil tersenyum gembira. Hadiah itu dimakan oleh
Rasulullah SAW
seulas demi seulas dengan tersenyum.
Biasanya Rasulullah SAW akan makan
bersama para sahabat, karena Rasulullah suka berbagi.
Namun kali ini tidak. Tidak seulas pun limau itu
diberikan kepada para sahabat. Rasulullah SAW
terus makan. Setiap kali dengan
senyuman, hinggalah habis semua limau itu. Kemudian wanita itu
meminta
diri untuk pulang, diiringi ucapan terima kasih dari baginda Rasulullah SAW. Sahabat-sahabat
agak heran dengan sikap
Rasulullah SAW saat itu. Karena sangat penasaran merekpun bertanya.
Dengan tersenyum Rasulullah
SAW menjelaskan, “Tahukah kalian, sebenarnya buah limau itu rasanya
terlalu masam sewaktu saya merasainya kali pertama. Kiranya kalian turut makan bersama,
saya bimbang dan khawatir jangan sampai ada di antara kalian yang akan mengeryitkan mata karana
rasa masam atau
malah memarahi wanita tersebut. Saya khawatir nanti hatinya akan tersinggung.
Sebab
itulah saya habiskan semuanya dan tidak membagi buah tersebut kepada kalian.”
Begitulah akhlak Rasulullah SAW. Baginda
tidak akan memperkecil-kecilkan
pemberian seseorang biarpun benda yang
tidak baik, dan dari orang bukan Islam pula. Wanita
kafir itu pulang
dengan hati yang kecewa. Mengapa? Karena sebenarnya dia bertujuan ingin
mempermainkan Rasulullah SAW dan para sahabat baginda dengan hadiah
limau
masam itu. Malangnya usaha tersebut tidak berhasil. Rencana wanita tersebut digagalkan
oleh
akhlak mulia Rasulullah SAW.
Senin, 01 Oktober 2012
KISAH PERANGKAP TIKUS
Sepasang suami istri petani baru pulang ke rumah mereka setelah berbelanja di pasar. Saat
mereka membuka barang belanjaan mereka, di sudut rumah ada seekor tikus yang memperhatikan mereka dengan
seksama sambil berkata,
"Wahh...makanan apa lagi yang dibawa oleh mereka dari pasar?"
Betapa kagetnya tikus tersebut karena ternyata, salah satu yang dibeli oleh petani ini adalah perangkap tikus.
Sang tikus mulai panik dan bingung. Ia pun segera berlari menuju kandangnya dan
berteriak,
"Akan ada perangkap tikus di rumah ini!....Bahaya.... di rumah
sekarang ada perangkap tikus!...."
Ia pun mendatangi ayam dan memberitahu ayam sambil berteriak,
"Mereka akan memasang perangkap tikus... Gawaaatt!"
Sang Ayam lalu berkata,
"Pak Tikus, aku turut bersedih, tapi itu bukan masalahku dan tidak berpengaruh terhadap diriku"
Dengan tergesa gesa, Sang Tikus pun lalu pergi menemui seekor Kambing untuk memberitahunya.
Sang Kambing malah berkata,
"Aku turut prihatin atas dirimu kawan...tapi maaf, aku tidak bisa berbuat apa apa."
Tikus lalu menemui Sapi dan mengadukan hal yang sama. Tapi Ia mendapat jawaban sama.
" Maafkan aku sobat, tapi perangkap tikus tidak berbahaya buat aku sama sekali, maafkan akau.!"
Sang Tikus belum menyerah, ia lalu lari ke hutan dan bertemu sang ular.
Tapi sang Ular malah mencibirnya dan berkata,
"Ahhh...Perangkap Tikus yang kecil tidak akan mencelakai diriku, kau tahu itu!"
Karena tidak ada yang mau peduli Sang Tikus pun kembali ke rumah dengan pasrah mengetahui kalau ia harus menghadapi bahaya sendirian. Suatu malam, Petani pemilik rumah terbangun
mendengar suara perangkap tikusnya berbunyi menandakan telah
memakan korban. Malangnya ketika dia melihat perangkap tikusnya, ternyata bukan Tikus yang ada di dalamnya, melainkan seekor ular
yang berbisa. Ekor ular yang terjepit itu membuatnya semakin ganas dan
menyerang istri pemilik rumah. Walaupun sang Suami sempat membunuh ular
berbisa tersebut, sang istri tidak sempat diselamatkan dari gigitannya.
Sang suami membawa istrinya ke rumah sakit dan kemudian istrinya
sudah boleh pulang, namun beberapa hari kemudian istrinya mengalami demam tinggi.
Ia lalu minta dibuatkan sop ceker ayam oleh suaminya(kita semua tau, sop
ceker ayam sangat bermanfaat buat mengurangi demam). Suaminya dengan
segera menyembelih ayamnya untuk diambil cekernya lalu dimasak. Sudah beberapa hari terlewatkan, namun demam istri petani itu tidak kunjung reda. Datanglah seorang teman yang menyarankannya untuk
memakan hati kambing. Ia pun menyuruh suaminya menyembelih kambingnya untuk diambil
hatinya. Masih tetap sama, istrinya tidak sembuh-sembuh juga dan akhirnya meninggal
dunia.
Banyak sekali orang datang melayat pada saat prosesi pemakaman istrinya itu. Sehingga sang Petani
harus menyembelih sapinya untuk memberi makan kepada orang-orang yang datang melayat.
Dari kejauhan...Sang Tikus menatap dengan penuh kesedihan. Beberapa hari
kemudian ia melihat Perangkap Tikus tersebut sudah tidak digunakan
lagi.
MANAKALA KITA MENDENGAR SEORANG DALAM MASALAH DAN KESULITAN, KITA SERING MENGIRA BAHWA ITU BUKANLAH URUSAN KITA!??...
KISAH ORANG TUA BIJAK
Pernah ada seorang tua yang hidup di desa kecil.
Meskipun ia miskin, semua orang cemburu kepadanya
karena ia memiliki kuda putih yang sangat gagah. Bahkan raja
sekalipun menginginkan hartanya itu. Kuda seperti itu belum pernah dilihat orang, begitu gagah, anggun dan kuat.
Orang-orang menawarkan harga amat tinggi untuk kuda jantan itu, tetapi orang tua itu selalu menolak : "Kuda ini bukan kuda bagi saya", katanya : "Ia adalah seperti seseorang. Bagaimana kita dapat menjual seseorang. Ia adalah sahabat bukan peliharaan. Bagaimana kita dapat menjual seorang sahabat ?" Meskipun orang tua itu
miskin, ia tetap tidak menjual kudanya. Suatu pagi ia menemukan bahwa kuda itu tidak ada di kandangnya. Seluruh desa datang menemuinya.
"Orang tua bodoh",
mereka mengejeknya :
"Sudah kami katakan bahwa seseorang akan mencuri kudamu. Kami peringatkan bahwa kamu akan di rampok. Anda begitu miskin... Mana mungkin anda dapat melindungi binatang yang begitu berharga ? Bukankah lebih baik jika anda menjualnya?!.
Anda boleh minta harga berapa saja. Harga setinggi apapun akan dibayar juga. Sekarang kuda itu hilang dan anda dikutuk oleh kemalangan". Orang tua itu menjawab :
"Jangan bicara terlalu cepat. Katakan saja bahwa kuda itu tidak berada di kandangnya. Itu saja yang kita tahu, selebihnya adalah penilaian. Apakah saya di kutuk atau tidak, bagaimana Anda bisa tahu itu ? Bagaimana bisa Anda
menghakimi ?".
Orang-orang desa itu protes :
"Jangan menggambarkan kami sebagai orang bodoh! kami memang bukan ahli filsafat, tetapi filsafat hebat tidak di perlukan. Fakta sederhana bahwa kudamu hilang adalah kutukan". Orang tua itu berbicara lagi :
"Yang saya tahu hanyalah, bahwa kandang itu kosong dan kuda itu pergi. Selebihnya saya tidak tahu. Apakah itu kutukan ataukah sebuah berkah, saya tidak tahu.Yang dapat kita lihat hanyalah sepotong saja. Tak ada seorangpun yang akan tahu apa
yang akan terjadi nanti ?" Orang-orang desa tertawa. Menurut mereka orang tua itu gila. Mereka memang selalu menganggap dia orang tolol
kalau tidak, ia pasti sudah menjual kuda itu dan hidup dari uang yang diterimanya. Tapi yang terjadi malah
sebaliknya. Ia adalah seorang tukang potong kayu yang miskin. Pekerjaan-nya memotong kayu bakar dan menariknya keluar dari hutan lalu menjualnya. Uang yang ia terima hanya cukup untuk membeli makanan, tidak lebih. Hidupnya sengsara sekali.
Sekarang ia sudah membuktikan bahwa ia betul-betul tolol.
Setelah lima belas hari berlalu, kuda itu kembali. Ia tidak di curi, ia lari ke dalam hutan. Kuda itu tidak hanya kembali, ia juga membawa sekitar selusin kuda liar bersamanya. Sekali lagi penduduk desa berkumpul di tempat tukang potong kayu itu dan mengatakan :
"Orang tua, kamu benar dan kami salah.
yang kami anggap kutukan sebenarnya adalah berkah. Maafkan kami". Orang tua itu menjawab:
"Sekali lagi kalian bertindak gegabah. Katakan saja bahwa kuda itu sudah kembali. Katakan saja bahwa selusin kuda ikut serta bersama,
tidak usah menilai. Bagaimana kalian bisa tahu bahwa ini adalah berkah ? kalian hanya melihat sepotong saja, tidak seluruh cerita, bagaimana kalian bisa menilai ? Kalau kalian hanya membaca satu halaman dari sebuah buku. Dapatkah kalian menilai seluruh buku? Kalau kalian hanya membaca satu kata dari sebuah ungkapan. Apakah kalian dapat mengerti seluruh ungkapan? Hidup ini begitu luas, namun kalian menilai seluruh hidup berdasarkan satu halaman atau satu kata.Yang kalian tahu hanyalah sepotong! Jangan terburu buru
mengatakan itu adalah sebuah berkat. Tidak ada yang tahu. Saya sudah puas dengan apa yang saya tahu. Saya tidak terganggu karena apa yang saya tidak tahu". "Barangkali orang tua itu benar,"
mereka berkata satu kepada yang lain.
Jadi mereka tidak banyak berkata-kata.
Tetapi di dalam hati mereka tahu kalau mereka memang salah.
Mereka tahu itu adalah berkah. Dua belas kuda liar pulang bersama satu kuda. Dengan kerja sedikit, binatang itu dapat dijinakkan dan dilatih, kemudian dijual untuk mendapatkan banyak uang. Orang tua itu mempunyai seorang anak laki-laki. Anak muda itu mulai menjinakkan kuda-kuda liar itu. Setelah beberapa hari, ia terjatuh dari salah satu kuda dan kedua kakinya patah. Sekali lagi orang desa berkumpul di tempat orang tua itu dan menilai.
"Kamu benar",
kata mereka, "Kamu sudah membuktikan bahwa kamu benar. Selusin kuda itu bukan berkah. Mereka adalah kutukan. Satu-satunya puteramu patah kedua kakinya dan sekarang dalam usia tuamu kamu tidak ada siapa-siapa untuk membantumu... Sekarang kamu lebih miskin lagi. Orang tua itu berbicara lagi :
"Ya, kalian kesetanan dengan pikiran kalian untuk menilai
dan menghakimi. Jangan keterlaluan. Katakan saja bahwa anak saya patah kaki. Siapa yang tahu itu berkah atau kutukan ? Tidak ada yang tahu. Kita hanya mempunyai sepotong cerita. Hidup ini datang sepotong-sepotong"
.Maka terjadilah dua minggu kemudian negeri itu berperang dengan negeri tetangga. Semua anak muda di desa diminta untuk menjadi tentara. Hanya anak si orang tua tidak diminta karena ia terluka. Sekali lagi orang berkumpul disekitar orang tua itu sambil menangis dan berteriak karena anak-anak mereka sudah dipanggil untuk bertempur. Sedikit sekali kemungkinan mereka akan kembali. Musuh sangat kuat dan perang itu akan dimenangkan musuh. Mereka tidak akan melihat anak-anak mereka kembali. "Kamu benar, orang tua", mereka menangis : "Tuhan tahu, kamu benar. Ini buktinya. Kecelakaan anakmu merupakan berkah. Kakinya patah, tetapi paling tidak ia ada bersamamu. Anak-anak kami pergi untuk selama-lamanya". Orang tua itu berbicara lagi :
"Tidak mungkin untuk berbicara dengan kalian. Kalian selalu menarik kesimpulan. Tidak ada yang tahu. Katakan hanya ini : anak-anak kalian harus pergi berperang, dan anak saya tidak. Tidak ada yang tahu apakah itu berkah atau kutukan. Tidak ada yang cukup bijaksana untuk mengetahui.
"Hanya Allah yang tahu".
(http://www.mail-archive.com)
Langganan:
Postingan (Atom)
Entri Populer
-
S ewaktu aku masih muda, Aku ingin mengubah dunia. Tapi ternyata itu tidak semudah yang kupikirkan, maka dari itu aku berpikir u...